Bencana Buat Rakyat, Logam Mulia Buat Pejabat: Drama Anggaran Kebencanaan yang Nggak Ada Habisnya
NYELATU.COM - Hidup di negeri yang langganan bencana itu rasanya mirip naik roller coaster tanpa sabuk pengaman.
Hari ini kita disuguhi berita banjir bandang, besok tanah longsor, lusa erupsi gunung berapi. Tiap kali ada musibah, linimasa media sosial langsung dipenuhi tagar kepedulian, galang dana kilat, sampai ajakan donasi pakai QRIS dari anak-anak muda yang rela nyisihin uang jajan demi bantu sesama.
Namun, di saat rakyat jelata sibuk patungan ribuan perak, ada segelintir oknum berkerah putih yang justru sibuk menatap anggaran bencana sambil tersenyum manis.
Bagi mereka, bencana alam sepertinya bukan cuma musibah, melainkan ajang "panen raya" yang sayang untuk dilewatkan.
Kabar menyebalkan ini kembali hadir dari lembaga yang seharusnya jadi benteng pertolongan pertama saat musibah menerjang: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baru saja menggelar Operasi Tangkap Tangan (OTT) dan mengamankan 14 orang di lingkungan BNPB.
Nggak tanggung-tanggung, dari Sekretaris Utama (Sestama), Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), tenaga ahli, sampai pihak swasta ikut diangkut.
Penyebabnya? Dugaan main mata di proyek pengadaan barang dan jasa, yang parahnya lagi, bersumber dari Dana Siap Pakai (DSP) untuk penanganan bencana. Dari tangan mereka, KPK menyita uang tunai sekitar Rp1,4 miliar plus logam mulia.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengonfirmasi bahwa operasi atau OTT BNPB ini memang menyasar dugaan amis di balik alokasi dana darurat tersebut.
"Kegiatan penyelidikan ini diduga berkaitan dengan pengadaan barang dan jasa di lingkungan BNPB, di antaranya yang menggunakan dana siap pakai untuk kebencanaan. Hal ini masih terus kami dalami," ujar Budi.
Bayangkan situasinya: saat warga di daerah terdampak bencana harus berdesakan di posko pengungsian, makan mi instan tiap hari, dan bingung esok hari mau tidur di mana, para oknum ini malah asyik menghitung gepokan uang tunai dan menimbang batangan logam mulia di ruangan ber-AC. Sangat puitis dan ironis.
Logam mulia dan uang Rp1,4 miliar itu mungkin cuma angka kecil dalam APBN, tapi nilai moralnya hancur tak berbekas.
Rasanya mustahil membayangkan ada orang yang tega mengambil keuntungan dari penderitaan korban bencana. Tapi ya, inilah realita yang harus kita telan mentah-mentah.
Pada akhirnya, kita hanya bisa mengelus dada sambil berdoa agar alam Indonesia cepat membaik dan semoga, nurani para pejabatnya juga ikut dipulihkan.
Sebab kalau tidak, rakyat akan terus-terusan kena dua bencana sekaligus: bencana dari alam, dan bencana dari kelakuan pejabatnya sendiri.
Editor : Siti Marahmi