Ketika Lansia dan Beras Mahal Lebih Penting Dibanding Debat Zodiak
NYELATU.COM - Jujur saja, kehidupan anak muda zaman sekarang itu penuh dengan overthinking. Baru bangun tidur, scroll FYP TikTok, isinya kalau nggak tren burnout di usia 20-an, ya debat soal zodiak atau krisis finansial saat pensiun nanti. Kita sering bingung: besok makan apa karena harga beras naik, dan nanti pas tua siapa yang bakal ngerawat kalau kita makin jompo?
Di tengah riuhnya netizen yang hobi memperdebatkan hal-hal kurang berfaedah di media sosial, Muhammadiyah justru hadir membawa kabar yang bikin adem.
Nggak cuma ngurusin tata cara ibadah ritual yang sering diperdebatkan kaum mendang-mending, Muhammadiyah lewat Majelis Tarjih-nya terbukti melangkah lebih jauh. Mereka betul-betul memikirkan dua hal yang paling bikin anak muda cemas: makanan dan masa tua.
Lewat Musyawarah Nasional (Munas) XXXIII Tarjih Muhammadiyah yang bakal digelar pada 5–7 November 2026 di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), dua isu bumi yang sangat relate ini bakal dikaji secara mendalam: Fikih Lanjut Usia dan Fikih Kedaulatan Pangan.
Coba bayangkan, di saat kita masih bingung membedakan antara kebutuhan dan keinginan pas tanggal tua, para ulama dan akademisi justru sudah memikirkan panduan keagamaan soal kemandirian pangan, keadilan akses, hingga kesejahteraan petani dan nelayan.
Fikih Kedaulatan Pangan hadir sebagai pengingat bahwa urusan perut dan beras mahal itu juga bagian dari tanggung jawab iman.
Nggak cuma itu, isu lansia yang sering terpinggirkan di era serba cepat ini juga dapat porsi khusus lewat Fikih Lanjut Usia. Intinya, agama hadir bukan hanya untuk orang sehat dan produktif, tapi juga memberikan ruang kasih sayang, perlindungan, dan tuntunan ibadah yang ramah buat para senior kita.
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Prof. Ustadi Hamsah, menguatkan hal ini saat peluncuran logo Munas di Gedung At-Taa'wun Tower Umsura. Dia menegaskan bahwa Tarjih Muhammadiyah tidak cuma berkutat pada hukum ritual.
"Gerakan Tarjih berfokus pada penguatan akidah, pembentukan akhlak, hingga tanggung jawab keagamaan dalam merespons persoalan kemanusiaan. Kami berharap Munas ini menghasilkan solusi nyata bagi persoalan umat dan bangsa," ujar Ustadi.
Selain dua fikih yang sangat membumi itu, Munas XXXIII juga bakal mengupas Risalah Akidah, Risalah Akhlak Islam Praktis (yang pas banget buat panduan kita biar nggak makin toxic di media sosial), serta pengembangan Himpunan Putusan Tarjih.
Penyelenggaraan Munas di Umsura ini jelas jadi momentum menarik. Rektor Umsura, Prof. Mundakir, menyambut hangat kepercayaan ini dan menilai kampus adalah ruang terbaik untuk mempertemukan pemikiran keislaman dengan realitas masyarakat.
"Munas Tarjih di lingkungan perguruan tinggi merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab akademik. Penyelenggaraan di kampus diharapkan dapat memperkuat dialog antara ulama, akademisi, dan mahasiswa untuk menghasilkan manfaat nyata," tutur Mundakir.
Biar makin lengkap, ada juga agenda Muhammadiyah Heritage Walk, yaitu kegiatan menyusuri jejak perjuangan Pahlawan Nasional K.H. Mas Mansur di Surabaya. Sebuah cara ciamik buat mengajak generasi muda unplug sejenak dari gawai dan belajar refleksi sejarah.
Pada akhirnya, Munas XXXIII Tarjih Muhammadiyah ini seolah menyentil kita: ketimbang energi habis buat meratapi nasib atau doomscrolling berita buruk, lebih baik kita mulai memikirkan hal-hal substansial. Mulai dari bagaimana menjaga ketahanan pangan keluarga hingga menyiap diri agar menjadi lansia yang bahagia dan terawat kelak.
Editor : Siti Marahmi