Drama Akad Nikah Sering Bikin Jantungan? Penghulu Sidoarjo Ungkap Kunci Damainya

Reporter : Siti Marahmi
Penghulu Kantor Kemenag Kabupaten Sidoarjo, Mochammad Fuad Nadjib

NYELATU.COM - Pernahkah kamu datang ke sebuah acara akad nikah, lalu mendadak suasananya tegang gara-gara sang pengantin salah sebut nama, atau vendor rias mendadak panik karena baju kebaya nyasar di lampu merah? Niatnya mau menyaksikan dua insan mengikat janji suci, penonton malah disuguhi adegan tegang mirip sinetron kejar tayang.

Di balik khidmatnya meja ijab kabul, ada sirkus kecil yang jarang tersorot kamera: mulai dari WO (wedding organizer) yang keringat dingin, perias yang mondar-mandir bawa jarum pentul, hingga fotografer yang mencoba mencari sudut terbaik di tengah kerumunan bapak-bapak yang hobi motret pakai flash hape. Kalau koordinasi ambyar, dijamin panggung sakral bisa berubah jadi ajang uji mental.

Menanggapi dinamika lapangan yang kerap bikin jantungan ini, Penghulu Kantor Kemenag Kabupaten Sidoarjo, Mochammad Fuad Nadjib, angkat bicara.

Menurutnya, kunci utama dari kelancaran momen sakral ini bukan terletak pada seberapa mahalnya katering, melainkan pada sinergi dan komunikasi yang sehat antara semua pihak yang bertugas.

"Perbedaan tugas seharusnya menjadi dasar untuk saling melengkapi, bukan sumber pertentangan. Hal terpenting adalah memastikan setiap pihak menjalankan tugas secara proporsional dan saling menghormati," ujar Fuad.

Bukan rahasia lagi kalau jadwal akad yang super padat, kemacetan jalanan Sidoarjo, hingga perubahan rundown mendadak sering kali memicu tekanan darah tinggi bagi para vendor di lapangan.

Dalam situasi genting seperti ini, penghulu dituntut tetap tegak berdiri mematuhi SOP dan regulasi pelayanan publik, tapi tetap harus luwes dan santun menghadapi tuan rumah yang panik.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik memang mewajibkan petugas untuk bersikap cermat, ramah, dan profesional.

Namun, Fuad menilai ketegasan prosedur hukum agama bisa berjalan seiring dengan fleksibilitas yang bijaksana di lapangan.

Sayangnya, era media sosial membuat segalanya makin dramatis. Sedikit saja ada miss teknis, jempol netizen langsung bergerak lebih cepat daripada kilat untuk menghakimi salah satu pihak tanpa tahu cerita utuh di balik layar.

"Kritik tetap diperlukan sebagai bahan evaluasi, tetapi hendaknya didasarkan pada fakta dan disampaikan secara santun. Jika ada kesalahpahaman, ruang dialog harus dibuka untuk mencari penyelesaian yang adil," pesan Kepala Madrasah Diniyah al-Maidah Durungbedug itu.

Pada akhirnya, segala kerempongan, miskomunikasi, hingga drama vendor di hari H memiliki satu tujuan akhir: memberikan kenyamanan dan kebahagiaan bagi pasangan pengantin yang nekat merajut masa depan bersama.

"Tujuan kita bukan mencari siapa yang salah, melainkan memastikan setiap persoalan menjadi pelajaran bersama demi pelayanan masyarakat yang lebih bermartabat," pungkas Fuad.

Jadi, buat kamu yang berencana menikah dalam waktu dekat, pastikan koordinasi vendor matang ya. Jangan sampai gara-gara salah pasang bunga meja, momen sakralmu malah viral di TikTok dengan soundtrack lagu sedih.

 

Editor : Siti Marahmi

Trending Minggu Ini
Berita Terbaru